Eksotis kawasan Kabupaten Kapuas Hulu menyimpan beragam potensi wisata. Alam yang masih perawan, menjadikan Kabupaten berjuluk Bumi Uncak Kapuas ini berbeda. Tak pelak lagi, kekayaan itu bagai zamrud di khatulistiwa yang siap untuk di arungi.

Dari sekian banyak potensi wisata yang paling menantan adalah menyusuri hulu sungai Kapuas. Sungai yang terkenal terpanjang di Republik ini. Sungai yang telah menjadi urat nadi masyarakat di Kalimantan barat, bahkan dunia. Terbentang dari Kota Putussibau, ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu, hingga ke muaranya di Kota Pontianak, ibu kita Provinsi Kalimantan Barat.

Menyusuri hulu sungai Kapuas akan menjadi petualangan yang tidak terlupakan. Menghabiskan hari diatas speedboat, menerjang riam nan dahsyat dan eksotis. Menyaksikan bebatuan di kiri dan kanan sungai, bahkan yang berdiri tegak di atas sungai yang dilintasi. Melihat keragaman budaya, adat istiadat dan kehidupan masyarakat Dayak Punan yang mendiami kawasan itu.

Petualangan menerjang hulu sungai Kapuas bermula dari kota Putussibau. Perjalanan cukup panjang, setidaknya dua hingga tiga hari hingga sampai di Desa Tanjung Lokang, yang merupakan desa terakhir di hulu sungai. Puluhan riam akan di hadapi sepanjang perjalanan. Sebut saja riam batu tiga, riam batu lintang, riam benda’ hingga riam bakang. Belum lagi riam di Kapuas kiri, yang terdapat riam delapan dan riam matahari yang paling terkenal itu. Perjalanan dari Putussibau menggunakan spead boat akan memperlihatkan pemandangan yang apik dan eksotis. Mulai dari hutan yang masih perawan, hingga perkampungan suku dayak. Mulai dari masyarakat suku dayak yang bermukim di rumah betang, hingga ke perkampungan suku dayak yang berumah individual. Setidaknya, ada beberapa kampong yang dilalui. Mulai dari Desa Melapi, Sayut, Lunsara, Nanga era’, Nanga Lapung, Bungan Jaya hingga ke Tanjung Lokang. Keberagaman adat istiadat, dan budaya masyarakat suku dayak di hulu sungai Kapuas itu merupakan daya tarik tersendiri. Belum lagi kuliner asli sungai, yaitu ikan daerah perhuluan yang terkenal enak, gurih dan memanjakan lidah. Salah satunya ikan semah yang berdaging enak dan memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.

Melintasi Jantung Borneo

Tidak hanya memacu adrenalin di sungai saja. Petualangan melintasi jantung borneo dengan berjalan kaki menembus belantara hutan perawan. Menyusuri wilayah perbatasan antara Kapuas dan Mahakam yang merupakan salah satu wilayah yang paling terpencil di Borneo. Di sebelah timur, daerah Mahakam Hulu, yang terisolasi oleh jeram-jeram yang sangat berbahaya, di mana suku Kayan-Mahakam, suku Busang termasuk sub suku Uma Suling dan lain-lain serta suku Long Gelat sebuah sub suku dari Modang menempati daratan-daratan yang subur, sedangkan suku Aoheng mendiami daerah berbukit-bukit. Di sebelah barat, daerah Kapuas Hulu dengan kota niaga kecil Putussibau, dikelilingi oleh desa-desa Senganan, Taman dan Kayan. Lebih ke hulu lagi, dua desa kecil Aoheng dan Semukng. Di antara keduanya, sebuah barisan pegunungan yang besar mencapai ketinggian hampir 2000 meter didiami oleh suku nomad Bukat atau Bukot dan Kereho atau Punan Keriu, serta suku semi nomad Hovongan atau Punan Bungan.

Orang asing pertama yang mencapai dan melintasi pegunungan ini adalah Mayor Georg Muller, seorang perwira zeni dari tentara Napoleon I yang sesudah Waterloo masuk dalam pamongpraja Hindia Belanda. Mewakili pemerintah kolonial, ia membuka hubungan resmi dengan sultan-sultan di pesisir timur Borneo.

Menjelang pertengahan abad XIX, Belanda telah berhasil menguasai daerah-daerah pesisir dan perdagangan di muara sungai besar. Penguasaan niaga saja ternyata tidaklah cukup, dan kekuatan-kekuatan kolonial membutuhkan penguasaan teritorial yang sesungguhnya, yang berdasarkan struktur-struktur administratif dan militer. Dalam rangka inilah ekspedisi-ekspedisi besar dilakukan pada perempat akhir abad XIX. Ekspedisi ke Kapuas Hulu dimulai pada 1893 oleh Nieuwenhuis.

Eksplorasi lebih lanjut lalu menyusul pada tahun-tahun pertama abad yang baru oleh Enthoven di Kapuas Hulu Hingga di tahun 1930-an, seluruh pedalaman Borneo telah jatuh di bawah kekuasaan sebenarnya dari kekuatan-kekuatan kolonial, kecuali Kesultanan Brunei yang sudah sangat menciut.

Informasi tentang Borneo dari sebelum zaman penjajahan tidak banyak diketahui. Abad XIX terjadi migrasi suku Dayak Iban secara besar-besaran, memasuki lembah Rejang dari selatan, mungkin dari daerah aliran Sungai Kapuas. Sebelumnya di daerah aliran Sungai Rejang tidak terdapat suku Iban. Dengan bermigrasi ke daerah hulu sungai Saribas dan sungai Rejang, suku Iban menyerang suku Kayan di daerah hulu sungai-sungai itu pada tahun 1863 dan terus maju ke utara dan ke timur. Pesta perang dan serangan pengayauan menyebabkan suku-suku lain terusir dari lahannya. Menjelang awal tahun 1900-an suku Dayak pengayau telah memasuki daerah hulu Sungai Rajang, Kayan, Mahakam dan Kapuas yang terpencil.

About these ads